Sejarah
perkembangan bahasa Indonesia
1.
Peristiwa yang
mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia
a. Budi
Utomo
b. Serikat
Islam
c. Balai
Pustaka
d. Sumpah
Pemuda
2.
Sejarah perkembangan
EYD
Berdasarkan
sejarah perkembangan ejaan, sudah mengalami perubahan sistem ejaan, yaitu:
a. Ejaan
Van Ophuijsen
Ejaan ini merupakan ejaan bahasa
Melayu dengan huruf Latin. Ciri-ciri dari ejaan ini yaitu: huruf Ḯ untuk
membedakan antara huruf I sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan
tersendiri dengan diftong seperti MULAḮ dengan RAMAI. Juga digunakan untuk
menulis huruf Yseperti dalam SOERABAḮA. Huruf J untuk menulis kata-kata JANG,
PAJAH, SAJANG, dan sebagainya. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe,
itoe, oemoer, dan sebagainya. Tanda diakritik, seperti koma ain, dan tanda trema,
untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ‘akal, ta’, pa’, dan sebagainya.
b. Ejaan
Soewandi
Ejaan Soewandi adalah ketentuan
ejaan dalam bahasa Indonesia yang berlaku sejak 17 maret 1947. Ejaan ini
mengganti ejaan sebelumnya, yaitu ejaan Ophuijsen yang mulai berlaku sejak
tahun 1901.
Huruf oe diganti dengan u pada
kata-kata guru, itu, umur, dan sebagainya. Bunyi hamzah dan bunyi sentak
ditulis dengan k pada kata-kata tak, pak, rakjat, dan sebagainya. Kata ulang
boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada kanak2, ber-jalan2, kebarat2-an.
c. Ejaan
yang disempurnakan
Ejaan yang disempurnakan adalah
bahasa indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan
sebelumnya yaitu ejaan Soewandi. Perbedaan EYD dan ejan sebelumnya adalah:
‘tj’ menjadi ‘c’ : tjara menjadi
cara
‘dj’ menjadi ‘j’ : djarak menjadi
jarak
‘oe’ menjadi ‘u’ : oekoer menjadi
ukur
‘nj’ menjadi ‘ny’ : njamuk menjadi
nyamuk
‘j’ menjadi ‘y’ : sajang menjadi
sayang, dan sebagainya.
3.
Perkembangan bahasa
indonesia masa reformasi
a. Munculnya
media massa (bahasa pers)
b. Bertambahnya
jumlah kata-kata singkat (akronim)
Daftar pustaka
http://bahasaindonesiapedia.blogspot.co.id/2015/03/sejarah-eyd-ejaan-yang-telah.html?m=1Kongres-Kongres Bahasa Indonesia
1. Konggres
Bahasa Indonesia I (Pertama)
Konggres
bahasa Indonesia yang pertama dilaksanakan di kota Solo, Jawa Tengah yakni pada
tanggal 25-28 Juni tahun 1938. Konggres pertama ini menghasilkan kesimpulan
yang intinya usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan
secara sadar oleh cendikiawan dan budayawan Indonesia pada waktu itu.
Kemudian
pada tanggal 18 Agustus 1945 ditandatangani Undang-Undang Dasar 1945, yang pada
pasal 36 menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Diresmikannya
penggunaan ejaan Republik sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku
sebelumnya, peresmian ini terjadi pada tanggal 19 Maret 1947.
2. Konggres
Bahasa Indonesia II
Konggres
bahasa Indonesia yang ke dua dilaksanakan di kota Medan, Sumatra Utara, pada
tanggal 28 Oktober sampai 1 November 1954. Konggres bahasa Indonesia ke dua ini
merupakan sebuah perwujudan tekad yang kuat dari bangsa Indonesia untuk terus
dan terus menyempurnakan bahasa Indonesia yang dijadikan kebanggaan bagi Bangsa
Indonesia.
Presiden H.M
Soeharto yang waktu itu menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia pada
tanggal 16 Agustus 1972, meresmikan penggunaan Ejaan yang Disempurnakan
(EYD) melalui sarana pidato kenegaraan pada sidang DPR yang dikokohkan
dengan adanya Keputusan Presiden No.57 Tahun 1972. Mentri Pendidikan dan
Kebudayaan pada tanggal 31 Agustus 1972, menetapkan Pedoman Umum Bahasa Ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi
berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).
3. Konggres
Bahasa Indonesia III
Konggres
bahasa Indonesia ke tiga dilaksanakan di ibu kota Jakarta, pada tanggal 28
Oktober sampai dengan 2 November 1978. kesimpulan pada konggres bahasa yang
ketiga ini adalah memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 yang memperlihatkan
kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928 dan
berusaha terus untuk memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
4. Konggres
Bahasa Indonesia IV
Konggres
bahasa Indonesia ke empat diselenggarakan di Jakarta, pada tanggal 21 smpai
tanggal 26 November 1983. Bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda yang ke-55
disebutkan dalam keputusannya bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia
harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam GBHN, yang
mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar tercapai semaksimal mungkin.
5. Konggres
Bahasa Indonesia V
Konggres
bahasa Indonesia yang ke lima dilaksanakan di Jakarta, pada tanggal 27 Oktober
smpai 3 November 1988. Konggres bahasa yang ke lima ini dihadiri oleh tujuh
ratusan pakar bahasa Indonesia dari Sabang sampai Merauke, hadir juga dari tamu
undangan yakni perwakilan dari negara Malaysia, Brunei Darusalam, Sinmgapura,
Belanda, Jerman, dan Australia.
Pada
konggres ini dipersembahkan pula sebuah karya besar dari Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa kepada pecinta bahasa di bumi Nusantara, yakni sebuah Kamus
Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
6. Konggres
Bhasa Indonesia VI
Konggres
bahasa Indonesia yang ke enam dilaksanakan di Jakrta, yakni pada tanggal 28
Oktober sampai 2 November 1993. sebanyak 770 peserta dari Indonesia hadir dalam
konggres bahasa ke enam ini, tidak ketinggalan 53 peserta dari berbagai negara
juga ikut sebagai tamu, yakni negara Brunai Darusalam, Australia, Jepang,
Rusia, Hongkong, India, Jerman, Singapura, Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Kesimpulan dari konggres ini adalah pengusulan Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa Indonesia ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta
mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.
7. Konggres
Bahasa Indonesia Ke VII
Konggres
bahasa Indonesia ke tujuh dilaksanakan di Hotel Indonesia, Jakarta, yakni pada
tanggal 26-30 Oktober 1998. kesimpulan dari konggres bahasa yang ke tujuh ini
ialah mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa Indonesia.
8. Konggres
Bahasa Indonesia ke VIII
Konggres
bahasa Indonesia ke Delapan diselenggarakan di jakarta, yakni pada tanggal 14
samapi 17 Oktober 2003. Pada konggres bahasa kali ini para pakar dan pemerhati
bahasa Indonesia menyimpulkan bahwa berdasarkan Konggres Sumpah Pemuda pada
tanggal 28 Oktober 1928 yang menyatakan bahwa para pemuda memiliki satu bahasa
yakni bahasa Indonesia, maka bulan Oktober dijadikan bulan bahasa. Agenda pada
bulan bahasa adalah berlangsungnya seminar bahasa Indonesia di berbagai lembaga
yang memperhatikan bahasa Indonesia.
9. Konggres
Bahasa Indonesia IX
Konggres
bahasa Indonesia ke sembilan dilaksanakan di Jakarta, yakni pada tanggal 28
Oktober sampai 1 November 2008. Konggres ini juga memperingati 100 tahun
kebangkitan nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan 60 tahun berdirinya Pusat
Bahasa. Dicanangkannya tahun 2008 sebagai tahun Bahasa, maka disepanjang tahun
2008 diadakan kegiatan kebahasaan dan kesastraan. dan sebagai puncaknya dari
seluruh kegiatan kebahasaan dan kesastraan serta 80 tahun Sumpah Pemuda, diadakan
konggres bahasa Indonesia ke IX.
Konggres ini
membahas lima hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, penggunaan
bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa media massa. Konggres
bahasa ini berskala internasional yang menghadirkan pembicara-pembicara dari
dalam dan luar negeri. Pakar bahasa dan sastra yang selama ini telah melakukan
penelitian dan mengembangkan bahasa Indonesia di luar negeri diberi kesempatan
untuk memaparkan pandangannya dalam konggres bahasa Indonesia ke IX ini.
10. Konggres
Bahasa Indonesia ke X
Konggres
bahasa Indonesia yang ke sepuluh dilaksanakan di Jakarta, yakni pada tanggal 28
Oktober sampai 31 Oktober 2013. kesimpulan dari konggres bahasa yang ke sepuluh
ini ialah Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), merekomendasikan
hal-hal yang perlu dilakukan pemerintah. Rekomendasi tersebut berdasarkan
laporan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, serta paparan enam
makalah pleno tunggal, di antaranya 16 makalah sidang pleno panel, 104 makalah
sidang kelompok yang tergabung dalam delapan topik diskusi panel, dan diskusi
yang berkembang selama persidangan.
Daftar Pustaka
http://www.gurungapak.com/2016/05/konggres-bahasa-indonesia.html